-->

Monday 14 December 2015

PIYAJATIKA SUTTA

PIYAJATIKA SUTTA


Demikian yang telah Ku dengar.
Pada suatu ketika, Sang Bhagava tinggal Savatthi, di hutan Jeta, di Taman Anathapindika.

Pada waktu itu seorang anak, satu-satunya, yang dicintai oleh ayahnya meninggal dunia. Setelah anak laki- lakinya meninggal, ia tidak memberikan perhatian kepada pekerjaannya dan makanannya. Ia pergi ke kuburan anaknya dan menangis: “Anakku satu- satunya, di mana kamu? Anakku satu- satunya, di mana kamu?”

Kemudian ia pergi kepada Sang Bhagava, dan setelah memberi hormat kepada-Nya, ia duduk di salah satu sisi. Setelah ia duduk, Sang Bhagava berkata kepadanya: “Perumah tangga, kemampuanmu kelihatannya seperti kemampuan mereka yang kehilangan ingatan. Kemampuanmu dalam keadaan yang tidak normal.”


“Bagaimana kemampuan saya dapat berada dalam keadaan normal, Yang Mulia, Guru? Anak laki- laki satu- satunya yang kusayangi dan kucintai telah tiada. Sejak ia meninggal, saya tidak memperhatikan lagi pekerjaan dan makanan saya. Saya terus pergi ke kuburannya dan menangis: ‘Anakku satu- satunya, di mana kamu? Anakku satu-satunya, di mana kamu?’ ”

“Jadi itulah perumah-tangga, itulah sebabnya. Orang- orang yang kita cintai, mereka yang terkasih membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan.”

“Yang Mulia, Guru, siapa yang pernah berpikir bahwa orang- orang yang kita cintai, mereka yang terkasih, membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan? Yang Mulia Guru, orang- orang yang kucintai, mereka yang terkasih, membawa kebahagiaan dan kegembiraan.”
Kemudian, karena tidak senang akan kata- kata Sang Bhagava dan tidak menyetujuinya, ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi.

Kemudian, pada suatu kesempatan, beberapa penjudi bermain dadu tidak jauh dari tempat Sang Bhagava. Kemudian perumah tangga ini pergi kepada para penjudi tersebut dan berkata: “Baru saja tuan- tuan, saya pergi kepada Pertapa Gotama, dan setelah memberi hormat kepada-Nya, saya duduk di salah satu sisi. Ketika saya duduk, Pertapa Gotama berkata kepada saya: ‘Perumah tangga, kemampuanmu kelihatannya seperti kemampuan mereka yang kehilangan ingatan. Kemampuanmu tidak dalam keadaan seperti mereka yang normal.’

Ketika hal ini dikatakan tuan- tuan, saya ceritakan kepada-Nya: ‘Bagaimana kemampuan saya dalam keadaan normal, Yang Mulia Guru? Anak laki- laki yang paling saya sayangi dan cintai meninggal. Sejak ia meninggal saya tidak memikirkan lagi pekerjaan dan makanan saya. Saya terus mengunjungi kuburannya dan menangis: Anakku satu- satunya, di mana kamu? Anakku satu- satunya, di mana kamu?’

Tetapi Pertapa Gotama berkata kepada saya ‘Karena itulah Perumah tangga, itulah sebabnya. Mereka yang kita sayangi, mereka yang kita cintai membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan.’ saya berkata ‘Yang Mulia Guru, siapakah yang pernah berpikir bahwa orang- orang yang kita cintai, mereka yang kita kasihi, membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan? Yang Mulia Guru, orang- orang yang kita cintai, mereka yang kita kasihi, membawa kebahagiaan dan kegembiraan.’ Kemudian karena tidak merasa senang dengan kata- kata Pertapa Gotama, dan tidak menyetujuinya, saya bangkit dari duduk saya dan pergi meninggalkannya.”

Penjudi- penjudi itu berkata “Karena itulah sebabnya, perumah tangga. Mereka yang kita kasihi, yang kita cintai, membawa kebahagiaan dan kesenangan.”

Kemudian, Perumah tangga tersebut berpikir, “Saya setuju dengan pendapat penjudi- penjudi itu.’” Lalu ia pergi meninggalkannya.

Cerita itu akhirnya sampai ke istana Raja. Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada permaisuri Mallika: “Inilah apa yang telah dikatakan oleh Pertapa Gotama, Mallika, ‘Orang-orang yang kita kasihi, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan.’ ”

“Jika itu yang dikatakan oleh Sang Bhagava, Yang Mulia, maka demikianlah.”

“Apapun yang dikatakan oleh Pertapa Gotama, Mallika menghargainya dengan berkata, ‘Jika hal itu telah dikatakan oleh Sang Bhagava, Yang Mulia, maka demikianlah’, sama seperti seorang murid yang menghargai apapun yang gurunya katakan kepadanya: ‘Demikianlah jadinya guru, demikianlah,’ dan demikian juga dengan Mallika apapun yang telah dikatakan oleh Pertapa Gotama, engkau menghargainya dengan berkata, ‘Jika itu yang dikatakan oleh Sang Bhagava, maka demikianlah jadinya.’ Pergilah Mallika, pergilah kamu!”

6. Kemudian Permaisuri Mallika berkata kepada Nalijangha dari kasta brahmana: “Brahmana, pergilah menghadap Sang Bhagava dan berikan penghormatan atas namaku dengan menundukkan kepalamu di kaki-Nya, dan tanyakan apakah Ia bebas dari penderitaan, bebas dari penyakit, sehat, kuat dan hidup dalam ketenangan, dengan mengatakan, ‘Yang Mulia, Permaisuri Mallika memberikan hormatnya dengan menundukkan kepalanya di kaki Sang Bhagava, dan ia bertanya apakah Sang Bhagava bebas dari penderitaan, bebas dari penyakit, sehat, kuat dan hidup dalam ketenangan’, dan berkata begini, ‘Yang Mulia, apakah kata- kata ini telah diucapkan oleh Sang Bhagava, “Orang- orang yang kita kasihi, mereka yang kita cintai membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan?”’ Pelajarilah dengan baik apa yang dikatakan Sang Bhagava dan ceritakan kepada saya, karena Tathagata tidak berbicara tidak benar.”

“Baik, tuan puteri,” ia menjawab dan ia pergi menghadap kepada Sang Bhagava dan saling bertukar hormat dengannya, dan ketika percakapan tegur sapa ini selesai, ia duduk di salah satu sisi. Setelah ia duduk, ia berkata: “Guru Gotama, Permaisuri Mallika memberikan hormatnya dengan menundukkan kepalanya di kaki Sang Bhagava dan bertanya apakah Sang Bhagava bebas dari penderitaan, bebas dari sakit, sehat, kuat dan hidup dalam ketenangan dan ia bertanya begini, ‘Yang Mulia, apakah kata- kata ini telah dikatakan Sang Bhagava, bahwa mereka yang kita cintai, mereka yang kita kasihi, membawa kesedihan dan ratapan, sakit, duka cita dan kekecewaan?’ ”

“Sungguh benar, demikianlah. Orang- orang yang kita kasihi, yaitu yang kita sayangi membawa kesedihan, ratap, sakit, duka dan keputusasaan.

Dapatlah dimengerti dari kejadian- kejadian ini bagaimana orang- orang yang kita sayangi, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kecewa serta putus asa. Pada suatu ketika di Savatthi ada seorang wanita yang ibunya meninggal. Setelah kematian ibunya, wanita itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat ibu saya? Pernahkah kamu melihat ibu saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang ayahnya meninggal. Setelah kematian ayahnya, wanita itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat ayah saya? Pernahkah kamu melihat ayah saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang saudara laki- lakinya meninggal. Setelah kematian saudara laki- lakinya, wanita itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat saudara laki- laki saya? Pernahkah kamu melihat saudara laki- laki saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang saudara perempuannya meninggal. Setelah kematian saudara perempuannya, wanita itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat saudara perempuan saya? Pernahkah kamu melihat saudara perempuan saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang anak laki- lakinya meninggal. Setelah kematian anak laki- lakinya, wanita itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat anak laki- laki saya? Pernahkah kamu melihat anak laki- laki saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang anak perempuannya meninggal. Setelah kematian anak perempuannya, wanita itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat anak perempuan saya? Pernahkah kamu melihat anak perempuan saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang suaminya meninggal. Setelah suaminya meninggal, ia menjadi tak waras, hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lainnya dan berkata, ‘Pernahkah kamu melihat suami saya? Pernahkah kamu melihat suami saya?’

Lalu, juga dapat dimengerti bagaimana orang- orang yang terkasih ini, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kekecewaan. Pada suatu ketika di Savatthi ada seorang pria yang ibunya meninggal. Setelah kematian ibunya, pria itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat ibu saya? Pernahkah kamu melihat ibu saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang pria yang ayahnya meninggal. Setelah kematian ayahnya, pria itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat ayah saya? Pernahkah kamu melihat ayah saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang pria yang saudara laki- lakinya meninggal. Setelah kematian saudara laki- lakinya, pria itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat saudara laki- laki saya? Pernahkah kamu melihat saudara laki- laki saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang pria yang saudara perempuannya meninggal. Setelah kematian saudara perempuannya, pria itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat saudara perempuan saya? Pernahkah kamu melihat saudara perempuan saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang pria yang anak laki- lakinya meninggal. Setelah kematian anak laki- lakinya, pria itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat anak laki- laki saya? Pernahkah kamu melihat anak laki- laki saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang pria yang anak perempuannya meninggal. Setelah kematian anak perempuannya, pria itu hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, sambil berkata, ‘Pernahkah kamu melihat anak perempuan saya? Pernahkah kamu melihat anak perempuan saya?’

Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang pria yang istrinya meninggal. Setelah kematian istrinya, ia menjadi tak waras, hilang ingatannya, dan ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain dan dari satu persimpangan ke persimpangan lain, berkata: ‘Pernahkah kamu melihat istri saya? Pernahkah kamu melihat istri saya?’

Lalu, dari kejadian ini dapat dimengerti bagaimana orang- orang terkasih itu, mereka yang kita kasihi, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kekecewaan. Pada suatu ketika di Savatthi itu juga ada seorang wanita yang menikah dan pergi untuk tinggal bersama keluarga suaminya. Keluarganya ingin menceraikannya dari suaminya dan memberikannya kepada yang lain yang ia tidak kehendaki. Kemudian wanita ini berkata kepada suaminya, ‘Suamiku, keluargaku ingin menceraikan aku dari kamu dan memberikan aku kepada yang lain yang tidak aku inginkan.’ Kemudian, laki- laki ini memotong wanita itu menjadi dua dan ia membunuh diri, ia berpikir, ‘Kita harus bersama- sama mati.’ Dapat juga dimengerti dari kejadian ini bagaimana orang- orang yang kita kasihi, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kekecewaan.”

Kemudian, setelah merasa senang akan kata- kata Sang Bhagava dan merasa setuju, Nalijangha dari kasta brahmana bangkit dari duduknya dan menghadap permaisuri Mallika yang kepadanya ia ceritakan pembicaraannya dengan Sang Bhagava.

Kemudian Permaisuri Mallika pergi kepada Raja Pasenadi dari Kosala dan bertanya: “Bagaimana Yang Mulia memahami hal ini, Paduka. Apakah Putri Vajiri mengasihi Anda?”
“Ya Mallika, Putri Vajiri sayang kepada saya.”

“Bagaimana Anda mengetahui hal ini, Paduka, jika perubahan terjadi dalam diri Putri Vajiri, akankah hal itu membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kecewa?”

“Perubahan dalam diri Putri Vajiri akan berarti perubahan dalam diri saya. Bagaimana kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan tidak dapat timbul dalam diri saya?”

“Dengan melihat kepada hal tersebut, Paduka, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, seorang Arahat dan seorang yang telah mencapai Penerangan Sempuna, berkata: ‘Orang- orang yang terkasih, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan.’

Bagaimana Anda memahami hal ini, paduka. Apakah Putri Vasabha yang agung mengasihi Anda?”
“Ya, Mallika, Putri Vasabha sayang kepada saya.”

“Bagaimana Anda mengetahui hal ini, Paduka, jika perubahan terjadi dalam diri Putri Vasabha, akankah hal itu membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kecewa?”

“Perubahan dalam diri Putri Vasabha akan berarti perubahan dalam diri saya. Bagaimana kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan tidak dapat timbul dalam diri saya?”

“Dengan melihat kepada hal tersebut, Paduka, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, seorang Arahat dan seorang yang telah mencapai Penerangan Sempuna, berkata: ‘Orang- orang yang terkasih, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan.’

Bagaimana Anda memahami hal ini, paduka. Apakah anak paduka Jendral Vidudabha mengasihi Anda?”
“Ya, Mallika, Jendral Vidudabha sayang kepada saya.”

“Bagaimana Anda mengetahui hal ini, Paduka, jika perubahan terjadi dalam diri Jendral Vidudabha, akankah hal itu membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kecewa?”

“Perubahan dalam diri Jendral Vidudabha akan berarti perubahan dalam diri saya. Bagaimana kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan tidak dapat timbul dalam diri saya?”

“Dengan melihat kepada hal itu, Paduka, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, Seorang Arahat dan Seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, berkata: ‘Orang yang kita kasihi, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan.’ ”

Bagaimana Anda memahami hal ini, paduka. Apakah saya mengasihi Anda, Paduka?”
“Ya, Mallika, kamu sayang kepada saya ”

“Bagaimana Anda mengetahui hal ini, Paduka, jika perubahan terjadi dalam diri saya, akankah hal itu membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kecewa?”

“Perubahan dalam diri kamu akan berarti perubahan dalam diri saya. Bagaimana kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan tidak dapat timbul dalam diri saya?”

“Dengan melihat kepada hal itu, Paduka, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, Seorang Arahat dan Seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, berkata: ‘Orang yang kita kasihi, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan.’ ”

Bagaimana Anda memahami hal ini, paduka. Apakah rakyat Kasi dan Kosala mengasihi Anda?” “Ya Mallika, rakyat Kasi dan Kosala mengasihi saya. Kita berhutang kepada rakyat Kasi dan Kosala, karena kita menggunakan kayu cendana Kasi dan memakai untaian bunganya, wangi- wangiannya dan obat- obatannya.”

“Bagaimana Anda memahami hal ini, Paduka, jika perubahan terjadi pada rakyat Kasi dan Kosala, akankah hal itu membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka dan kecewa?”

“Sebuah perubahan dalam diri rakyat Kasi dan Kosala akan berarti sebuah perubahan dalam hidup saya. Bagaimana kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan, tidak timbul dalam diri saya?”

“Dengan melihat kepada hal itu, Paduka, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, Seorang Arahat dan Seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, berkata: ‘Orang yang kita kasihi, mereka yang kita cintai, membawa kesedihan dan ratap, sakit, duka cita dan kekecewaan.’ ”

“Sungguh bagus, Mallika, luar biasa betapa jauh Sang Bhagava menembus ini dengan pengertian dan melihatnya dengan penuh perhatian! Kemarilah Mallika, berikan saya air untuk mencuci.”

Kemudian, Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, dan mengatur jubah atasnya di atas bahunya, ia mengangkat telapak tangannya bersama- sama mengarah kepada tempat Sang Bhagava berada, dan ia berseru,

“Terpujilah Sang Bhagava, Arahat dan Seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna.”
“Terpujilah Sang Bhagava, Arahat dan Seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna.”
“Terpujilah Sang Bhagava, Arahat dan Seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna.”

Sutta Pitaka, Majjhima Nikaya, Majjhima Pannasa, Raja Vagga, Piyajatika Sutta (MN 87)

No comments :

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.

close