-->
Showing posts with label Digha Nikaya. Show all posts
Showing posts with label Digha Nikaya. Show all posts

Tuesday, 8 December 2015

KUTADANTA SUTTA

KUTADANTA SUTTA


Pada suatu ketika Sang Bhagava serta sekelompok besar bhikkhu sangha, sebanyak lima ratus bhikkhu, sedang mengadakan perjalanan melalui kerajaan Magadha dan tiba di desa Brahmana bernama Khanumata. Dan di sana beliau menginap di taman Ambalatthika.
Pada saat itu Brahmana Kutadanta tinggal di Khanumata, tempat yang ramai, banyak padang rumput, kayu, air, dan jagung, daerah yang dianugerahkan oleh Raja Seniya Bimbisara dari Magadha kepadanya dan lengkap dengan kekuasaan kerajaan atas daerah itu.
Dan Kutadanta merencanakan upacara pengorbanan besar dengan disiapkannya tujuh ratus ekor sapi, tujuh ratus ekor kerbau, tujuh ratus ekor anak sapi, tujuh ratus ekor kambing jantan, dan tujuh ratus ekor domba yang semuanya diikat di tiang pengorbanan.

Sementara itu, para brahmana dan perumah tangga dari Khanumata mendengar berita tentang kedatangan Buddha Gotama dan lima ratus bhikkhu, maka mereka dalam jumlah yang besar berduyun- duyun pergi ke Ambalatthika.

CAKKAVATTI SIHANADA SUTTA

CAKKAVATTI SIHANADA SUTTA


Demikian yang telah Ku dengar. 

Pada suatu ketika Sang Bhagava menetap di Matula dalam kerajaan Magadha. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu.” Para bhikkhu menjawab: “Ya, bhante.” Kemudian Sang Bhagava berkata:”Para bhikkhu, jadilah pulau bagi diri kalian sendiri, jadilah pelindung bagi dirimu sendiri dan jangan berlindung pada yang lain, hiduplah dalam dhamma sebagai pulaumu, dhamma sebagai pelindungmu dan jangan berlindung pada yang lain. 

Para bhikkhu, tetapi bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam sebagai pulau bagi dirinya sendiri, sebagai pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung pada yang lain, hidup dalam dhamma yang sebagai pulau bagi dirinya, dhamma sebagai pelindung dan tidak berlindung pada yang lain? 

BRAHMAJALA SUTTA

BRAHMAJALA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berjalan di jalan antara kota Rajagaha dan Nalanda, diikuti oleh 500 orang Bhikkhu. Pada saat itu pula Suppiya paribbajaka bersama muridnya seorang pemuda bernama Brahmadatta sedang dalam perjalanan antara Rajagaha dan Nalanda. Ketika itu Suppiya paribbajaka mengucapkan bermacam-macam kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Tetapi sebaliknya muridnya Brahmadatta memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikianlah antara guru dan murid masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, sambil berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava.

Kemudian Sang Bhagava bersama-sama dengan para bhikkhu berhenti dan bermalam di Ambalatthika, tempat peristirahatan raja. Demikian pula Suppiya paribbajaka dan muridnya Brahmadatta berhenti di Ambalatthika. Di tempat itu pula mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka tadi.

LAKKHANA SUTTA

LAKKHANA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, Anathapindika arama, dekat kota Savatthi. Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu.” “Ya, Bhante,” jawab para bhikkhu. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:

“Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (Maha Purisa) memiliki 32 tanda (lakkhana). Bagi Maha Purisa yang memiliki 32 lakkhana ini hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain. Jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), raja berdasarkan raja dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh pusaka (ratna). Tujuh pusaka itu adalah: cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun ia akan menaklukkan muka bumi bukan dengan pedang tetapi dengan kebenaran. Bilamana ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi tanpa berumah tangga (pabbajja), maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha.

KEVADDHA SUTTA

KEVADDHA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar:

Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Nālandā, di kebun mangga Pāvārika. Dan perumah tangga Kevaddha datang menemui Sang Bhagavā, bersujud di depan Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian ia berkata: ‘Bhagavā, Nālandā ini kaya, makmur, ramai, dan dipenuhi dengan orang yang berkeyakinan terhadap Bhagavā. Baik sekali jika Bhagavā mengutus beberapa bhikkhu untuk melakukan pertunjukan kesaktian dan keajaiban. Dengan demikian, Nālandā akan lebih berkeyakinan terhadap Bhagavā.’

Sang Bhagavā menjawab: ‘Kevaddha, itu bukanlah cara Aku mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu, dengan mengatakan: “Pergilah, para bhikkhu, dan perlihatkanlah kesaktian dan keajaiban demi umat awam berjubah putih!”’

AGANNA SUTTA

AGANNA SUTTA


Demikian yang Ku dengar.

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi, di Pubbarama milik Migaramata. Pada waktu itu Vasettha dan Bharadvaja sedang menjalani latihan kebhikkhuan di antara para Bhikkhu, berkeinginan untuk menjadi bhikkhu. Kemudian pada malam hari itu, setelah bangkit dari samadhi-Nya, Sang Bhagava keluar dari kamar (kuti) dan berjalan ke sana ke mari (cankammana) di alam terbuka di sebelah kamar.

Hal ini dilihat oleh Vasettha dan menceritakannya kepada Bharadvaja, yang selanjutnya ia berkata : "Sahabat Bharadvaja, marilah kita pergi menemui Sang Bhagava, mudah-mudahan kita beruntung dapat mendengar uraian Dhamma dari Sang Bhagava."

SIGALOVADA SUTTA

SIGALOVADA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar: 

Pada suatu hari Sang Bhagava bersemayam di dekat Rajagaha di Veluvana di Kalandakanivapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu Sigala yang muda belia, putera seorang kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah ia mengangkat tangan yang dirangkap, menyembah berbagai arah bumi dan langit: Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas. 

Pada pagi itu Sang Bhagava setelah berkemas pagi-pagi sekali dengan mengenakan jubah dan membawa mangkok memasuki Rajagaha untuk Pindapata. Ketika Beliau melihat Sigala yang muda belia sedang memuja, Beliau bertanya:
close