Wednesday, 22 January 2014

Meditasi Dhamma Yang Hidup

Para pencari kebajikan yang telah berkumpul di sini, mohon dengarkanlah dengan tenang. Mendengarkan Dhamma dengan tenang artinya mendengarkan dengan pikiran yang terpusat, memperhatikan apa yang kalian dengar dan kemudian melepaskannya. Mendengarkan Dhamma sangatlah bermanfaat. Ketika mendengarkan Dhamma, kita diajak untuk secara teguh membuat tubuh dan pikiran berada dalam keadaan samadhi, karena ia merupakan salah satu dari praktek Dhamma. Pada zaman Sang Buddha, orang-orang mendengarkan khotbah Dhamma dengan sungguh-sungguh, dengan pikiran yang bertekad untuk memahami segala sesuatu dengan sebenar-benarnya, dan ada di antara mereka yang benar-benar menyadari dan memahami Dhamma ketika sedang mendengarkan.

Siapa Diri Kita Sebenarnya

Dalam pembicaraan berikut Ajahn Sumedho menjelaskan bagaimana, dengan sebuah pemahaman terhadap proses pengkondisian, melalui praktik meditasi dan penerapan keterampilan disiplin spiritual kita mampu untuk menemukan sifat sebenarnya dari pikiran tercerahkan untuk diri kita sendiri.

Saat kita merenungkan Dhamma, ajaran Sang Buddha, adalah sangat baik untuk mempertanyakan apakah sebenarnya sebuah personalitas (kepribadian) itu, yaitu rasa keterpisahan diri kita, individualitas, persepsi diri kita sebagai seseorang yang terpisah dari yang lainnya.

Buddhisme Satu-Satunya Sains Yang Sejati

Perth, Australia — Saya dulunya seorang ilmuwan. Saya belajar Ilmu Fisika Teoritis di Universitas Cambridge, berada di dalam gedung yang sama dengan seseorang yang kemudian dikenal sebagai Profesor Stephen Hawking. Saya menjadi kecewa dengan sains ketika sebagai orang-dalam, saya melihat betapa menjadi dogmatisnya seorang ilmuwan. Dogma, menurut kamus, merupakan pernyataan arogan dari sebuah opini.[1]

Ini merupakan suatu uraian yang sesuai dari sains yang saya saksikan di laboratorium Cambridge. Sains telah kehilangan rasa malunya. Opini yang bersifat egoistis mengalahkan pencarian Kebenaran yang berimbang. Aforisme (peribahasa) favorit saya pada waktu itu adalah: “Keunggulan seorang ilmuwan besar diukur oleh banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk MERINTANGI KEMAJUAN di dalam bidang mereka!”

Pentingnya Berpikir Lateral

Kisah sehari-hari untuk direnungkan, meski mungkin oleh sebagian orang tidak dianggap begitu penting, namun bagi sebagian orang dianggap sangat luar biasa, yang sangat bernilai bagi pencapaian tingkatan spiritual seseorang. Pelajaran spiritual tentunya hanya akan didapatkan dari pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari untuk mengasah 'spirit' seseorang, karena spiritual bukanlah dicapai dengan ilmu pengetahuan ciptaan manusia, namun oleh alam semesta, dengan penempaan dan ujian dalam kehidupan sepanjang perjalanan hidup manusia.

Tuesday, 14 January 2014

Ramalan dan Kamma oleh Subalaratano Thera

 NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMASAMBUDDHASSA
 'SUKHO PUÑÑASSA UCCAYO, 
"Kebahagiaan seseorang timbul akibat dari menumpuk jasa kebajikan"

        Dewasa ini seringkali Umat Buddha masih banyak yang sangat menggantungkan sikapnya kepada ramalan ahli nujum. Apalagi kalau umat Buddha yang masih awam dengan Buddha-Dhamma. Mereka umumnya belum mempunyai pengertian mendalam mengenai apa yang diajarkan oleh Buddha Gotama.

Kisah Devadatta

Suatu ketika kedua murid utama Sang Buddha : Yang Ariya Sariputta dan Yang Ariya Maha Moggallana, pergi dari Savathi menuju Rajagaha. Di sana, orang-orang Rajagaha mengundang mereka bersama seribu pengikut mereka, untuk menerima makan pagi. Pada kesempatan itu seseorang menyerahkan selembar kain, seharga seratus ribu, kepada penyelenggara upacara untuk didanakan. Dia mengharapkan mereka mengatur dan menggunakan pemberiannya untuk upacara itu.

Kata-Kata Bijak

Tekad yang sejalan dengan Ajaran

Tekad yang sejalan dengan Ajaran Dharma, tentunya bisa menampung dan bertoleransi dalam segala pengetahuan, jika tidak demikian, meskipun telah paham segala pengetahuan, hanya akan merupakan bayang-bayangan yang hampa.

Hati yang bimbang

Bila dengan hati yang selalu ragu dan bimbang, sekalipun banyak jalan menuju (Roma) ke kota Chang An, tetap saja tidak akan bisa mencapai tujuan.

Pikiran yang kacau

Ada dua jenis pikiran yang kacau, pikiran yang tenggelam dalam kebingungan dan mengambang. Yang pertama adalah orang yang hidup seenaknya, selalu bermalas-malasan dan tidak ada kemajuan untuk maju. Pikiran yang mengambang adalah orang yang selalu ragu dan bimbang, pikirannya tak pernah tenang, dan hidup tak punya tujuan.


Master Cheng Yen

Kata-Kata Perenungan

Hati bagaikan bulan purnama

Hati kita hendaknya seperti bulan yang terang, terlihat jelas di permukaan air. Hati juga seperti langit yang luas tanpa awan, terlihatlah langit yang cerah.


Melihat dan mendengar dengan hati nurani

Dengan hati yang tenang dan jernih melihat kehidupan serta mendengar suara alam semesta bersama segala isinya.


Keadaan boleh berubah tetapi hati tetap teguh

Hati bagaikan sebuah cermin yang jernih, kendati fenomena di luar selalu bergerak dan berubah, permukaan cermin tetap tidak bergerak, tidak ikut terpengaruh. Artinya, sekalipun kondisi di luar berubah, tapi hati dan pendirian kita tetap teguh. Sebab kalau hati kita juga ikut berubah, maka kita akan kehilangan pendirian, akibatnya sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


Surga dan neraka

Surga dan neraka sepenuhnya diciptakan oleh pikiran dan perbuatan manusia itu sendiri. Jangan takut dengan neraka, yang harus ditakuti adalah pikiran dan perbuatan yang tidak benar.

Hati yang murni tak terkalahkan oleh kejahatan Dengan hati yang suci dan pikiran yang jernih, bisa mengalahkan segala bentuk kejahatan, sekaligus bisa menikmati kehidupan yang bebas tanpa beban.

Setiap saat berbaik hati setiap waktu menjadi balk Bila setiap saat kita melakukan kebajikan, maka setiap hari merupakan hari terbaik bagi kita. Dengan niat baik dan pikiran positif, setiap waktu dan tempat dimanapun menjadi baik.


Master Cheng Yen

Kisah Sariputta Thera

Upatissa dan Kolita adalah dua orang pemuda dari dusun Upatissa dan dusun Kolita, dua dusun di dekat Rajagaha. Ketika melihat suatu pertunjukan, mereka menyadari ketanpaintian dari segala sesuatu. Lama mereka berdua mendiskusikan hal itu, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Akhirnya mereka bersama-sama memutuskan untuk mencari jalan keluarnya. Pertama-tama, mereka berguru kepada Sanjaya, petapa pengembara di Rajagaha.

Kata-Kata Perenungan

Lapang dada dan welas asih

Welas asih adalah rasa simpati yang dalam. Bisa saling memaafkan, saling bertoleransi, yang diwujudkan dengan berlapang dada dan kasih sayang. Itulah welas asih sesungguhnya. Orang yang bahagia adalah, apabila ia bisa berlapang dada dan memberi kasih sayang pada semua makhluk.

Welas asih mendapatkan bahagia

Imbalan yang tak dapat dihitung dengan angka-angka disebut tak terhingga. Pemberian tanpa mengingat jerih payah disebut welas asih. Menyumbangkan tenaga dan melayani dengan suka cita disebut pemberian tanpa pamrih.

Memberi kebahagiaan melenyapkan penderitaan

Kata-kata cinta kasih dan welas asih mempunyai makna masing-masing. Cinta kasih adalah memberi kegembiraan agar orang hidup bahagia dan membina yang mampu agar menanam kebajikan. Welas asih adalah melenyapkan akar penderitaan serta memberi bantuan pada orang miskin.

Hati Buddha suci dan jernih

Tiada perbedaan antara Buddha, manusia dan makhluk, mereka sama-sama memiliki sepasang kaki dan tangan. Bedanya adalah hati Buddha selalu suci dan jernih, hidup bebas dan bahagia, batin manusia penuh noda yang sifat duniawi, sehingga tidak dapat melihat keadaan yang sesungguhnya. Batin Buddha bagaikan ‘safety box’ yang menyimpan barang berharga, batin orang awam bagikan gudang sampah, tempat menampung barang-barang yang tak berguna, sehingga membuat kita menderita.

Batin yang penuh noda

Yang disebut batin semua makhluk adalah batin orang awam yang telah ternoda. Bila mampu melenyapkan noda tersebut, maka akan timbul sifat   ke-Budhaan.


Master Cheng Yen

Kegelapan Batin oleh YM. SRI PANNAVARO MAHATHERA

Bukan hanya kebencian dan keserakahan yang silih berganti mempengaruhi manusia, tetapi sumber keserakahan dan kebencian itu sendiri menampakkan dirinya dengan amat jelas menguasai banyak orang. Sumber itu adalah kegelapan batin. Tidak ada lagi cahaya terang dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Kegelapan batin membuat manusia tidak bisa lagi membedakan antara yang baik don berguna, juga antara yang jahat dan merugikan. Kegelapan batin membutakan banyak orang dari kebajikan kemudian menganggap kejahatan sebagai kelaziman.

Monday, 13 January 2014

III.Citta Vagga - Pikiran

III.Citta Vagga - Pikiran

1. Orang Yang Bijak Meluruskan Pikirannya

Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap;
pikiran susah dikendalikan dan dikuasai.
Orang bijaksana meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.

Penjelasan : Dalam Dhammapada ada beberapa referensi untuk pengerjaan dari pembuat panah tersebut. Sang Buddha tampaknya telah mengamati proses melalui mana pembuat panah yang mengubah sebuah tongkat biasa menjadi panah efisien. Mendisiplinkan pikiran dipandang sebagai proses paralel. Dalam bait ini Sang Buddha mengatakan bahwa yang bijaksana meluruskan dan memantapkan pikiran bimbang yang sulit untuk penjaga, seperti pembuat panah meluruskan poros anak panah.




bodhi-prajna.blogspot.com
2. Pikiran Yang Menggelepar

Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air dan dilemparkan ke atas tanah,
pikiran itu selalu menggelepar.
Karena itu cengkeraman dari Mara harus ditaklukkan.


Penjelasan : Ketika membuat upaya untuk meninggalkan ranah Mara (kejahatan), pikiran mulai bergetar seperti ikan yang diambil keluar dari air dan dibuang di darat.





bodhi-prajna.blogspot.com
3. Mengendalikan Pikiran Untuk Kebahagiaan

Sukar mengendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya.
Adalah baik untuk mengendalikan pikiran,
suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.


Penjelasan: Pikiran adalah sangat halus dan sulit untuk dilihat. Itu menempel pada sasaran apa pun keinginan. Orang bijak menjaga pikiran. Pikiran dijaga membawa kebahagiaan.




bodhi-prajna.blogspot.com
4. Menjaga Pikiran Untuk Kebahagiaan

Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus,
pikiran bergerak sesuka hatinya.
Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya,
seseorang yang menjaga pikirannya akan berbahagia.


Penjelasan: Pikiran bergerak sekitar begitu cepat sulit untuk mendapatkan itu sepenuhnya. Hal ini cepat. Ia memiliki cara untuk berfokus pada apa pun yang ia suka. Hal ini baik dan keuntungan besar untuk menjinakkan pikiran. Pikiran jinak membawa kebahagiaan.




bodhi-prajna.blogspot.com
5. Mengendalikan Pikiran Dari Jeratan Mara

Pikiran itu selalu mengembara jauh,
tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati.
Mereka yang dapat mengendalikannya,
akan bebas dari jeratan Mara.


Penjelasan : Pikiran adalah mampu melakukan perjalanan jarak luas - atas atau bawah, utara atau selatan, timur atau barat - ke segala arah. Hal ini dapat melakukan perjalanan ke masa lalu atau masa depan. Ini menjelajah tentang sendirian. Ini adalah tanpa bentuk jelas. Jika seorang individu adalah untuk menahan pikiran sepenuhnya, ia akan mencapai kebebasan dari belenggu kematian.



bodhi-prajna.blogspot.com
6. Kebijaksanaan Tidak Akan Tumbuh Jika Pikiran Goyah

Orang yang pikirannya tidak teguh,
yang tidak mengenal ajaran yang benar,
yang keyakinannya selalu goyah,
orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya.


Penjelasan : Jika pikiran seseorang terus goyah, dan jika seseorang tidak tahu ajaran, jika antusiasme seseorang terus berfluktuasi atau lesu,, kebijaksanaan orang tersebut tidak tumbuh.




bodhi-prajna.blogspot.com
7. Pikiran Terjaga Tidak Ada Rasa Ketakutan

Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian,
yang telah mengatasi keadaan baik dan buruk,
di dalam diri orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan.



Penjelasan: Bagi orang yang yang pikiran tidak dibasahi oleh semangat, tidak terpengaruh oleh permusuhan dan yang telah bangkit di atas baik dan yang jahat, tidak ada rasa takut karena dia terjaga.





bodhi-prajna.blogspot.com
8. Senjata Untuk Mengalahkan Kematian

Dengan mengetahui bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan,
hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota,
dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan.
Ia harus menjaga apa yang telah dicapainya,
dan hidup tanpa ikatan lagi.


Penjelasan : Ini adalah realistis untuk berpikir tentang tubuh sebagai rentan, rapuh, rapuh dan mudah hancur. Bahkan, kita harus mempertimbangkan itu sebagai wadah tanah liat. Pikiran harus dianggap sebagai sebuah kota. Orang harus terus-menerus sadar untuk melindungi kota. Kekuatan jahat harus dilawan dengan senjata kebijaksanaan. Setelah pertempuran, setelah Anda telah mencapai kemenangan, hidup tanpa melekat pada diri manusia.



bodhi-prajna.blogspot.com
9. Tanpa Pikiran, Tubuh ini Tidak Ada Gunanya

Aduh, tak lama lagi tubuh ini akan terbujur di atas tanah,dibiarkan saja, tanpa kesadaran,
bagaikan sebatang kayu yang tidak berguna.


Penjelasan: Segera, tubuh ini, tanpa kesadaran, dibuang tidak berharga seperti membusuk, akan berbaring di atas bumi.






bodhi-prajna.blogspot.com
10. Semua Kesalahan Persoalan Muncul dari Pikiran Jahat

Luka dan kesakitan macam apa pun,
dapat dibuat oleh orang yang saling bermusuhan atau saling membenci.
Namun pikiran yang diarahkan secara salah,
akan melukai seseorang jauh lebih berat.


Penjelasan : Ketika salah satu bandit yang melihat lainnya, ia menyerang bandit kedua. Dengan cara yang sama, satu orang melihat seseorang yang dia benci, ia juga membahayakan orang yang dibenci. Tapi pikiran buruk dikerahkan halnya untuk otak pikiran yang jauh lebih buruk daripada bandit yang akan lakukan untuk bandit yang lain atau yang pembenci akan lakukan untuk pembenci lain.



Bodhi-prajna.blogspot.com
11. Pikiran Yang Terlatih Baik Mengungguli Orang

Bukan dengan pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga;
namun pikiran yang diarahkan dengan baik,
yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.


Penjelasan : Baik diarahkan pikiran dapat membantu orang yang lebih baik daripada ayah seseorang atau ibu seseorang.











close