-->
Showing posts with label Khuddaka Nikaya. Show all posts
Showing posts with label Khuddaka Nikaya. Show all posts

Sunday, 13 December 2015

BHOJAJANIYA JATAKA

BHOJAJANIYA JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam pelatihan dirinya. Saat menegur bhikkhu itu, Sang Guru berkata, “Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, Ia yang bijaksana dan tekun dalam melakukan kebajikan, meskipun berada di tengah kepungan musuh dan dalam keadaan terluka, tetap tidak menyerah.”

Setelah mengucapkan kata- kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Suatu ketika, Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kuda Sindhu (Sindhavā) keturunan murni. Ia merupakan kuda utama kerajaan, yang dikelilingi oleh kemegahan dan kebesaran. Makanannya berupa beras usia tiga tahun yang sangat halus, disajikan dalam mangkuk emas yang bernilai uang seratus ribu keping, lantai istalnya diberi wewangian dengan empat keharuman yang berbeda. Tirai merah tua tergantung di sekeliling dinding istalnya, sementara di atas istal itu, terdapat sebuah langit- langit yang bertaburkan bintang-bintang emas. Dindingnya dihiasi dengan rangkaian dan untaian bunga yang wangi, dan sebuah lampu dengan minyak yang beraroma selalu menyala di sana.

KATTHAHARI JATAKA

KATTHAHARI JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, mengenai Vāsabha-Khattiyā. Menurut cerita secara turun temurun, ia adalah putri dari Mahānāma Sakka dengan seorang pelayan wanita bernama Nāgamuṇḍā; ia kemudian menjadi istri Raja Kosala. Saat ia sedang mengandung putra dari raja, raja yang baru mengetahui tentang asal usulnya yang rendah itu, menurunkan statusnya, demikian pula dengan status putranya, Viḍūḍabha. Ibu dan anak itu tidak pernah keluar dari istana.

Mendengar hal ini, pada subuh pagi hari, dengan diiringi oleh lima ratus orang bhikkhu, Sang Guru mengunjungi istana. Beliau duduk di tempat yang telah disediakan untukNya dan berkata, “Tuan, dimanakah Vāsabha-Khattiyā?”

NANDIVISALA JATAKA

NANDIVISALA JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai kata-kata tidak enak (kasar) yang diucapkan oleh keenam bhikkhu. Saat berselisih dengan para bhikkhu yang terhormat, keenam bhikkhu ini selalu mencela, memaki dan mencemooh dengan sepuluh jenis kata- kata kasar. Hal ini disampaikan oleh para bhikkhu kepada Sang Bhagawan. Beliau kemudian mengundang mereka dan bertanya apakah tuduhan itu benar adanya. Saat mereka mengakui hal tersebut, Beliau menegur mereka dengan berkata, “Para Bhikkhu, kata- kata kasar bahkan bisa menyakiti hati hewan, di kehidupan yang lampau, seekor hewan membuat orang yang memakinya menderita kerugian seribu keping uang.” Setelah mengucapkan kata- kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

MATAKABHATTA JATAKA

MATAKABHATTA JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, mengenai (perayaan) makanan untuk orang- orang yang telah meninggal. Saat itu, para penduduk membunuh kambing, domba, hewan-hewan lainnya, dan mempersembahkan mereka dalam sebuah ritual yang disebut perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal demi keselamatan sanak keluarga mereka yang mereka tinggalkan. Melihat para penduduk sedang melaksanakan upacara tersebut, para bhikkhu bertanya kepada Sang Guru, “Bhante, barusan para penduduk membunuh sejumlah makhluk hidup dan mempersembahkan mereka dalam sebuah ritual yang disebut sebagai perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal. Dapatkah hal itu membawa kebaikan, Bhante?”

“Tidak, para Bhikkhu,” jawab Sang Guru, “pembunuhan yang dilakukan dengan tujuan mengadakan sebuah perayaan, tidak akan membawa kebaikan apa pun juga. Di kehidupan yang lampau, mereka yang bijaksana membabarkan Dhamma dengan melayang di udara, dan menunjukkan akibat buruk dari praktik yang salah itu, membuat semuanya meninggalkan praktik tersebut. Namun dewasa ini, saat pengaruh kelahiran sebelumnya telah mengacaukan pikiran mereka, praktik salah itu muncul kembali.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

MALUTA JATAKA

MALUTA JATAKA


Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, mengenai dua orang bhikkhu yang bergabung dalam Sanggha di usia tua. Menurut cerita yang disampaikan secara turun temurun, mereka tinggal di hutan Negeri Kosala. Satu bhikkhu bernama Thera Kāḷa (Gelap) dan satu lagi bernama Thera Juṇhā (Terang). Suatu hari Juṇhā bertanya kepada Kāḷa, “Bhante, kapankah saat dingin itu muncul?” “Saat awal bulan.” Di kesempatan yang lain, Kāḷa bertanya kepada Juṇhā, “Bhante, kapankah saat dingin itu muncul?” “Saat pertengahan bulan .”

Karena mereka berdua tidak dapat menyelesaikan hal tersebut, mereka menghadap Sang Guru, setelah memberikan penghormatan, mereka bertanya, “Bhante, kapankah saat dingin itu muncul?”

DHAMMACARIYA SUTTA

DHAMMACARIYA SUTTA


Jika orang meninggalkan kehidupan berumah tangga, menjadi pertapa dan menjalani kehidupan selibat dan murni; inilah permata yang paling berharga.

Tetapi jika secara alami dia terlalu banyak bicara, dan senang menyakiti yang lain secara kasar, kehidupan orang seperti ini menjadi tidak bermanfaat dan kekotoran batinnya meningkat.

Seorang bhikkhu yang senang bertengkar karena dikelabuhi kebodohan batin, sekalipun dijelaskan ia tak akan memahami ajaran yang dibabarkan Sang Buddha.

KIMSILA SUTTA

KIMSILA SUTTA


Yang Ariya Sariputta bertanya,

Orang dengan watak seperti apa, perilaku seperti apa, tindakan seperti apa, yang akan menjadi mantap sehingga mencapai kesejahteraan tertinggi?

Buddha Gotama berkata,

Dia adalah orang yang menghormat yang lebih tua; yang tidak iri hati, yang tahu saat yang tepat untuk menjumpai gurunya, yang tahu saat yang tepat untuk mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah-khotbah yang dibabarkan dengan baik oleh gurunya itu.

TUVATAKA SUTTA

TUVATAKA SUTTA


‘Penguasa kebijaksanaan, Putra Surya,’ kata seseorang kepada Sang Buddha. ‘Saya ingin mengajukan pertanyaan tentang keadaan damai, keadaan kesendirian, dan keadaan tidak melekat yang tenang. Pandangan terang yang bagaimanakah yang membuat seorang bhikkhu menjadi tenang, dingin dan tidak lagi serakah terhadap apa pun?’

‘Dia mencapai hal ini,’ jawab Sang Buddha, ‘dengan memotong penghalang akarnya, yaitu kebodohan: dia menghapus segala buah-pikir mengenai ‘aku’. Senantiasa penuh perhatian, dia melatih dirinya untuk melepas semua nafsu keinginan yang muncul di dalam dirinya.’

Apa pun yang mungkin dipahaminya di dalam atau di luar, dia harus menghindari menjadi sombong akan pendirian-pendiriannya. Orang baik-baik telah mengatakan bahwa ini bukanlah keadaan tenang.

ATTADANDA SUTTA

ATTADANDA SUTTA


Rasa takut muncul karena mengambil jalan kekerasan — lihat saja bagaimana orang-orang bertengkar dan berkelahi! Tetapi akan kujelaskan padamu sekarang tentang kecemasan dan teror yang telah kurasakan.

Melihat orang-orang meronta –bagaikan ikan yang menggelepar di air yang dangkal– dengan rasa saling bermusuhan, aku menjadi takut.

Pada suatu ketika, aku ingin mencari tempat untuk bernaung, tetapi tidak pernah kulihat tempat seperti itu. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang kokoh dasarnya, tak ada satu bagian pun darinya yang tidak berubah.

MUNI SUTTA

MUNI SUTTA


Rasa takut muncul karena keintiman. Nafsu indera terlahir dari kehidupan berumah-tangga. Karena itu, keadaan tak berumah dan ketidakmelekatan dihargai oleh para bijaksana.

Orang yang memotong kekotoran batin yang telah muncul dan tidak mau menanamnya lagi, serta yang tidak mau masuk ke dalam apa yang sedang tumbuh, dia disebut orang bijaksana yang berkelana sendiri. Guru agung itu telah melihat Keadaan Damai (Nibbana).

Setelah memeriksa tanah, setelah membuang benih dan tidak menyiramnya sehingga benih itu tidak tumbuh, setelah meninggalkan tipu muslihat, orang bijak yang telah melihat akhir kelahiran tidak dapat digambarkan menurut kategori secara pasti.

Saturday, 12 December 2015

CULAPANTHAKA SUTTA

CULAPANTHAKA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu ketika Bhagava sedang berada dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Yang Ariya Culapanthaka duduk bersila tidak jauh dari Bhagava, menahan tubuhnya tegak, sesudah mengatur kewaspadaan sebelumnya.

UPASENA SUTTA

UPASENA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu ketika Bhagava sedang berada di dekat Rajagaha, di hutan Bambu, di Tempat Pemberian Makan Tupai. Pada saat itu, sementara Yang Ariya Upasena Vangantaputta sedang bertapa, pikiran ini muncul dalam benaknya, “Keuntungan bagi saya, keuntungan yang besar bagi saya, bahwa guruku adalah Bhagava, Arahat, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, bahwa saya telah beralih dari keadaan berumah menuju keadaan yang tidak berumah dalam Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna dan Vinaya ini, bahwa sesamaku dalam kehidupan suci ini berbudi luhur dan bertingkah laku baik, bahwa saya telah memenuhi keluhuran moral, bahwa saya terkendali dan terpusat dalam pikiran, bahwa saya seorang Arahat yang terbebas dari noda, bahwa saya mempunyai kemampuan dan kekuatan luar biasa yang besar. Beruntunglah kehidupan saya ini dan beruntung pula kematian saya!”

VISAKHA SUTTA

VISAKHA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu saat Sang Bhagava sedang tinggal di dekat Savatthi, di Taman Timur, di rumah induk lbu Migara.

Pada saat itu, Visakha, Ibu Migara, sedang terlibat suatu urusan dengan Raja Pasenadi dari Kosala, dan raja ini tidak menyelesaikan urusan seperti yang dia inginkan. Jadi Visakha mendatangi Bhagava di tengah hari, bersujud dan duduk di satu sisi. Sementara duduk di sana, Bhagava berkata kepadanya, “Visakha, dari mana kamu di tengah hari ini ?”

UPASAKA SUTTA

UPASAKA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu saat Bhagava sedang tinggal di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu seorang pengikut awam dari Icchanangala tiba di Savatthi karena suatu urusan. Kemudian setelah urusan di Savatthi selesai, pengikut awam mendekati Bhagava bersembah sujud, dan duduk di satu sisi. Ketika dia duduk di sana Bhagava berkata kepada pengikut awam tersebut, “Akhirnya, hai pengikut awam, engkau telah mendapat kesempatan untuk datang kemari”.

HUMHUNKA SUTTA

HUMHUNKA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu saat Bhagava sedang tinggal di hutan Uruvela, di dekat sungai Neranjara, di bawah Pohon Beringin Gembala Kambing, beberapa saat setelah mencapai Penerangan Sempurnaa. Pada saat itu Bhagava duduk bermeditasi selama tujuh hari menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. Kemudian ketika tujuh hari itu sudah berlalu, Bhagava berhenti bermeditasi.

KUMARAKA SUTTA

KUMARAKA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu ketika Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu sejumlah anak- anak laki di daerah antara kota Savatthi dan Hutan Jeta sedang menyiksa ikan dalam kolam.

Kemudian Bhagava, sesudah mengenakan jubahnya sebelum siang hari dan membawa mangkuk dan jubah luar Nya, pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Beliau melihat anak- anak itu di antara kota Savatthi dan Hutan Jeta sedang menyiksa ikan. Ketika melihat hal ini beliau mendekati anak- anak itu dan berkata: “Apakah kamu, anak- anak takut rasa sakit? Apakah kamu tidak suka rasa sakit?”

AJAKALAPAKA SUTTA

AJAKALAPAKA SUTTA


Demikinlah yang Ku dengar,

Suatu saat Bhagava sedang tinggal di Pava, di Vihara Ajakalapaka, tempat tinggal Yakkha Ajakalapaka. Pada saat itu Bhagava sedang duduk di udara terbuka di malam yang gelap gulita sementara hujan turun rintik- rintik. Kemudian Yakkha Ajakalapaka, karena ingin membuat takut dan kekacauan dalam diri Bhagava dan ingin membuat bulu kuduk beliau berdiri, mendekati Bhagava dan ketika sudah dekat meneriakkan 3 kali jeritan yang mengerikan membuat kekacauan yang besar, mengatakan,“Inilah setan bagimu, pertapa!

JATILA SUTTA

JATILA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Suatu saat Bhagava sedang tinggal di dekat Gaya, di bukit Gaya. Pada saat itu di malam musim dingin di periode antaratthaka di musim salju, banyak pertapa Jatila di Gaya menceburkan diri masuk dan keluar dari air, menyiramkan air ke tubuh mereka, dan melakukan penghormatan api, mereka berpikir, "dengan tindakan- tindakan ini, kesucian dapat dicapai."

MAHAKASSAPA SUTTA

MAHAKASSAPA SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Suatu saat Bhagava sedang tinggal di dekat Rajagaha, di Hutan Bambu, di Tempat Pemberian Makan Tupai. Pada saat itu Yang Ariya Maha Kassapa sementara tinggal di Gua Pipphali, jatuh sakit, menderita sakit yang parah. Setelah beberapa saat Yang Ariya Maha Kassapa sembuh dari sakit, kemudian beliau berpikir, “Bagaimana jika Saya memasuki Rajagaha untuk mengumpulkan makanan?”.

SUBHUTI SUTTA

SUBHUTI SUTTA


Demikianlah yang Ku dengar,

Pada suatu ketika Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Yang Ariya Subhuti duduk bersila tidak jauh dari Bhagava, menahan tubuhnya tegak, sesudah mencapai suatu konsentrasi yang tak terputus- putus.

Bhagava melihat Yang Ariya Subhuti duduk bersila tidak jauh dari beliau, menahan tubuhnya tegak, sesudah mencapai suatu konsentrasi yang tak terputus- putus.

close